Dari Dompet ke Digital: Perubahan Pola Keuangan Anak Muda

Dini

Dini

Contributor

03 Juni 2026
3 min baca
79 dilihat
Sistem-digitalisasi-keuangan

"Baru scan QR, tapi saldo tiba-tiba tinggal receh.” 

Fenomena tersebut kian rutin terjadi pada para anak muda di Surabaya. Dulunya orang-orang masih ragu-ragu sebelum mengambil uang tunai dari dompet mereka. Sekarang, cukup buka dompet digital dan scan sekali, transaksi langsung selesai. Cara cashless memang praktis, tetapi tanpa disadari, kebiasaan ini mulai mengubah cara generasi muda mengelola keuangan mereka.

Mulai dari berkumpul di cafe, membeli makanan melalui online, membayar biaya parkir, hingga membeli kebutuhan sehari-hari, semuanya sekarang bisa dilakukan secara digital. Di satu sisi, sistem tanpa uang tunai membuat proses menjadi lebih cepat dan lebih modern. Namun di sisi lain, kemudahan ini juga membuat banyak anak muda lebih boros karena pengeluaran terasa "tidak nyata".

Perkembangan teknologi pembayaran digital di Indonesia membuat budaya tanpa uang tunai semakin populer, terutama di kota besar seperti Surabaya. Munculnya QRIS, mobile banking, serta berbagai aplikasi e-wallet seperti GoPay, OVO, dan DANA membuat proses transaksi jauh lebih mudah dibandingkan menggunakan uang tunai.

Menurut penelitian dari Universitas Negeri Surabaya, anak muda adalah kelompok yang paling sering menggunakan pembayaran digital karena mereka merasa cara ini lebih praktis, lebih cepat, dan cocok dengan cara hidup modern mereka. Penggunaan uang digital semakin membentuk kebiasaan baru dalam kehidupan sehari-hari masyarakat perkotaan.

Kemudahan ini akhirnya memengaruhi cara anak muda mengelola uang mereka. Sebelumnya, orang lebih mudah merasakan saat mengeluarkan uang tunai, tetapi sekarang dengan transaksi digital, pengeluaran terasa lebih ringan karena hanya dilakukan melalui layar ponsel. Banyak pemuda akhirnya tidak menyadari seberapa banyak uang yang sudah mereka belanjakan dalam sehari.

Fenomena itu semakin kuat karena banyak aplikasi pembayaran digital memberikan promo cashback, diskon, serta gratis ongkir. Promo memang bisa menarik banyak pengguna, tetapi jika tidak dikelola dengan baik, justru bisa membuat orang terlalu suka belanja berlebihan. Banyak orang membeli barang bukan karena membutuhkan, tapi karena takut ketinggalan promo.

Meski begitu, sistem tanpa uang tunai sebenarnya juga memberikan manfaat positif dalam mengelola keuangan. Riwayat transaksi yang dicatat secara otomatis bisa membantu pengguna memantau pengeluaran mereka dengan lebih mudah. Selain itu, pembayaran digital dianggap lebih aman dan efisien karena tidak perlu membawa uang tunai dalam jumlah yang banyak.

Oleh karena itu, literasi keuangan menjadi hal yang penting di masa kini yang sudah bertransformasi menjadi era tanpa uang tunai. Anak muda tidak hanya perlu tahu cara menggunakan pembayaran digital, tetapi juga harus bisa mengatur kebiasaan belanjanya dengan baik. Membatasi uang di e-wallet, membuat rencana pengeluaran bulanan, serta membedakan antara kebutuhan dan keinginan adalah langkah sederhana yang bisa mencegah kemudahan bertransaksi cashless berubah menjadi masalah keuangan.

Akhirnya, tren penggunaan uang digital di Surabaya tidak hanya tentang cara pembayaran yang berubah, tetapi juga mencerminkan perubahan gaya hidup serta cara mengelola keuangan bagi generasi muda di zaman digital saat ini.



Tags
Cashless EWallet KeuanganAnakMuda GenerasiMuda GayaHidupDigital CashlessSociety
Link berhasil disalin ke clipboard!
Kembali ke Atas
Chat WhatsApp